Tato Anjing China di Pet Fair Picu Kecaman Publik

Kisah kontroversial muncul dari Shanghai ketika publik dikejutkan dengan kasus Tato Anjing China yang ditampilkan di ajang Pet Fair Asia. Seekor anjing jenis Mexican Hairless Dog dipamerkan dengan tubuh penuh tato bergambar naga dan macan putih. Pemiliknya bahkan mengklaim bahwa proses penatoan dilakukan tanpa anestesi karena anjing tersebut dianggap memiliki toleransi tinggi terhadap rasa sakit.
Kabar ini segera memicu gelombang kemarahan di kalangan netizen. Mereka menilai tindakan tersebut bukanlah seni, melainkan bentuk kekejaman terhadap hewan. Banyak komentar di media sosial menyebut bahwa praktik Tato Anjing China tidak bisa dibenarkan, meskipun dilakukan di bawah pengawasan dokter hewan. Bagi publik, pameran ini justru menimbulkan trauma visual dan memperlihatkan rendahnya kepedulian pemilik terhadap kesejahteraan hewan peliharaannya.
Reaksi Publik dan Tindakan Panitia
Kontroversi Tato Anjing China membuat publik bereaksi keras, baik di dunia maya maupun dalam forum pecinta hewan. Banyak netizen mengutuk tindakan tersebut sebagai tindakan tidak manusiawi. Ungkapan seperti “tidak berperasaan” hingga “kekejaman terang-terangan” membanjiri komentar daring.
Panitia Pet Fair Asia langsung mengambil tindakan dengan melarang pemilik anjing kembali masuk ke area acara. Mereka menegaskan bahwa pameran hewan seharusnya menjadi ajang edukasi, bukan eksploitasi. Sejumlah aktivis perlindungan hewan juga menyerukan agar regulasi lebih ketat diterapkan untuk melarang praktik semacam ini. Bagi mereka, kasus Tato Anjing China menandai perlunya kesadaran kolektif bahwa hewan bukan objek seni tubuh, melainkan makhluk hidup yang harus dilindungi.
Selain itu, komunitas dokter hewan memberikan penjelasan medis bahwa kulit anjing lebih tipis dibanding manusia, sehingga penatoan bisa menimbulkan rasa sakit luar biasa dan risiko infeksi. Pernyataan ini semakin memperkuat argumen bahwa tindakan tersebut tidak bisa dibenarkan.
Kasus Tato Anjing China mendorong desakan agar pemerintah dan organisasi terkait memperkuat aturan perlindungan hewan. Banyak pihak menilai hukuman tegas perlu diberikan, tidak hanya kepada pemilik, tetapi juga terhadap pihak yang terlibat dalam proses penatoan.
Baca juga : Shanghai Waspada Badai Tropis dan Ancaman Tsunami Rusia
Selain sanksi, edukasi kepada masyarakat dinilai penting agar kasus serupa tidak terulang. Hewan peliharaan seharusnya diperlakukan dengan kasih sayang, bukan dijadikan media untuk ekspresi seni ekstrem. Dengan adanya peraturan jelas, diharapkan semua pihak memahami bahwa kesejahteraan hewan adalah prioritas utama.
Ke depan, kasus Tato Anjing China bisa menjadi momentum penting untuk membangun kesadaran kolektif tentang perlakuan etis terhadap hewan. Semakin cepat aturan ditegakkan, semakin besar peluang terciptanya lingkungan yang aman, sehat, dan penuh penghormatan bagi hewan peliharaan di seluruh dunia.