Rival Starlink dan Drone Tanpa Ekor Cina Hadapi Tantangan

Ambisi teknologi tinggi China kembali menjadi sorotan setelah dua proyek andalannya—konstelasi satelit pesaing Starlink dan drone tempur tanpa ekor—diketahui mengalami tantangan besar. Meski keduanya dirancang untuk menunjukkan dominasi Beijing dalam ranah sipil dan militer, hambatan teknis dan kekhawatiran global terus menghantui keberlanjutan kedua inisiatif tersebut.
Konstelasi satelit Cina, yang dikenal sebagai Guowang dan Spacesail (Qianfan), digadang-gadang akan mengorbit puluhan ribu satelit untuk menyaingi sistem milik SpaceX, Starlink. Tujuan utamanya adalah menyediakan koneksi internet global yang stabil, murah, dan bebas dari dominasi Barat. Namun, upaya ambisius ini terkendala pada kapasitas peluncuran roket serta metode peluncuran yang berisiko menciptakan puing antariksa di orbit tinggi.
Sementara itu, di sektor pertahanan, publik internasional dikejutkan dengan beredarnya rekaman video drone tanpa ekor yang tengah diuji coba bersama pesawat bermesin turboprop di wilayah udara Cina. Desain aerodinamis yang menyerupai pesawat stealth menunjukkan bahwa Beijing tengah menyempurnakan teknologi kendaraan udara nirawak generasi baru yang bisa digunakan dalam operasi intelijen dan misi tempur jarak jauh.
Proyek Satelit: Ambisi Global Terhambat Logistik
Dalam beberapa laporan teknis, disebutkan bahwa Cina belum memiliki cukup peluncur untuk mendukung proyek konstelasi satelit berskala raksasa ini. Selain itu, metode peluncuran langsung ke orbit operasional berisiko tinggi karena menyebabkan tahap kedua roket gagal terbakar kembali di atmosfer, menciptakan debris (puing) luar angkasa yang sulit dilacak dan mengancam satelit lain.
Masalah ini mengundang kritik dari komunitas antariksa internasional yang khawatir akan meningkatnya kemungkinan tabrakan di orbit menengah dan tinggi. Apalagi dengan jumlah satelit yang ditargetkan mencapai puluhan ribu unit, tantangan lingkungan luar angkasa menjadi semakin serius.
Di sisi lain, keberhasilan program ini sangat penting bagi Cina untuk mengamankan akses digital global, terutama di kawasan yang belum terjangkau infrastruktur Barat. Proyek ini juga merupakan bagian dari strategi jangka panjang “civil-military fusion,” di mana teknologi sipil dapat dimobilisasi untuk tujuan pertahanan nasional.
Drone Tanpa Ekor: Teknologi Siluman dan Loyal Wingman
Drone tanpa ekor yang tertangkap kamera diyakini sebagai bagian dari pengembangan sistem udara tak berawak tempur terbaru. Desain tanpa ekor tidak hanya mengurangi tanda radar (RCS), tetapi juga meningkatkan kelincahan manuver di udara. Teknologi ini banyak dikaitkan dengan konsep “loyal wingman,” di mana drone akan berfungsi sebagai pendamping jet tempur berawak dalam misi kombinasi.
Baca juga : Laporan CISCE 2025 Ungkap Tren Baru Rantai Pasok Global
Keberadaan drone ini mengindikasikan bahwa Cina kini semakin serius dalam membangun armada udara tak berawak yang dapat beroperasi dalam skenario peperangan modern. Hal ini selaras dengan tren global di mana negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Rusia, dan India pun gencar mengembangkan drone generasi ke-6 dan sistem otonom tempur.
Jika dikembangkan secara penuh, teknologi ini berpotensi menggantikan sebagian peran jet tempur konvensional, sekaligus memperluas kemampuan pengawasan dan serangan di wilayah strategis seperti Laut Cina Selatan, Selat Taiwan, hingga kawasan Indo-Pasifik.